Lirik lagu Genjer-genjer yang berkisah tentang tumbuhan genjer, tumbuhan sawah yang memiliki kedekatan dengan kehidupan petani dan masyarakat kecil, menjadikannya mudah diterima oleh masyarakat luas. Boleh jadi mereka menyukai lagu ini karena lariknya mengisyaratkan keberpihakan pada rakyat kecil. Lirik lagu Genjer-genjer ditulis dalam bahasa Jawa, meski beberapa sumber menyebutkan adanya perbedaan lirik di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur akibat digunakannya logat bahasa Jawa yang berbeda.
Mengenai muasal lagu Genjer-genjer, Hersri Setiawan memiliki catatan menarik. Dia mengisahkan bahwa pada bulan Desember 1962, para sastrawan dari beberapa lembaga kebudayaan di Indonesia, mendapat undangan untuk mengikuti sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Komite Eksekutif Biro Pengarang Asia-Afrika di kota Denpasar, Bali. Selain wakil-wakil dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), berangkat juga perwakilan dari Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi). Utusan dari Lekra dipimpin oleh Jubaar Ajoeb dangan peserta antara lain Rivai Apin, Hr. Bandaharo, Pramudya Ananta Toer, Bujung Saleh Puradisastra, Dodong Jiwapraja, Samandjaja, Sobron Aidit dan Nyoto alias Iramani.
Sebelum menyeberang ke pulau Bali, rombongan tersebut menyempatkan diri untuk singgah di kota Banyuwangi, Jawa Timur. Disana mereka memperolah sambutan hangat dari pimpinan Lekra cabang setempat, salah satunya adalah M. Arif, pemimpin Lembaga Musik. Bersamanya hadir pula sekelompok perempuan berkain kebaya, yang kemudian memainkan alat musik angklung dan membawakan beberapa buah komposisi musik sebagai bentuk ucapan selamat datang. Dalam kesempatan itulah lagu Genjer-genjer, yang dibawakan sebagai lagu pembuka dan penutup reportoar, mampu memikat hati para tetamu dari Jakarta. Seusai acara penyambutan, mereka ramai memperbincangkan lagu yang digubah oleh M. Arif dan dinyanyikan dalam logat Banyuwangi itu. Bahkan Njoto sempat melontarkan komentar yang bernada ramalan bahwa lagu Genjer-genjer akan terkenal secara luas dan menjadi lagu nasional.
Belakangan, rerasan Nyoto, yang saat itu menjabat sebagai Ketua III CC-PKI dan sebelumnya juga dikenal sebagai seniman musik yang acap mengisi acara musik di Radio Republik Indonesia (RRI) bersama Bing Slamet, ternyata tidak meleset. Lebih kurang satu tahun setelah diperdengarkan dihadapan perwakilan Lekra di Banyuwangi, lagu Genjer-genjer mulai sering mengalun di ibukota melalui siaran RRI dan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Bahkan lagu tersebut dinyanyikan oleh Bing Slamet, penyanyi tenar saat itu, dan direkam dalam piringan hitam yang dijual bebas dipasaran.
Lagu Genjer-genjer, dan sebuah tarian yang juga dikenal dengan nama yang sama, kemudian sering dipentaskan di Jakarta oleh sebuah kelompok hiburan, Paduan Suara Gembira. Pada acara ulang tahun Konferensi Asia-Afrika pada bulan April 1965, lagu dan tarian tersebut disuguhkan pula oleh Paduan Suara Gembira ke hadapan para tamu terhormat dari negara-negara Asia-Afrika.
Entah apa yang salah dengan genjer-genjer sebagai sebuah produk kebudayaan? Selepas PKI dan orang-orang PKI, berikut anak cucunya dihancurkan oleh Orde Baru, tak terkecuali pula lagu genjer-genjer yang sebenarnya adalah lagu yang menggambarkan potret masyarakat pada zaman pendudukan Jepang. Mungkin steriotype lagu genjer-genjer menjadi lagu komunis dan patut dihancurkan muncul atas beberapa faktor. Pertama, sejak awal lagu ini berkembang dan dikreasi oleh kalangan komunis dan dikembangkan oleh kalangan komunis pula. Walaupun pada perkembangannya pada era tahun 1960-an lagu ini tidak hanya digemari oleh kalangan komunis, tetapi juga masyarakat secara luas. Namun Orde Baru menerapkan politik bumi hangus, maka seluruh produk apa pun yang dilahirkan oleh orang-orang komunis haram hukumnya dan patut dihabisi. Kedua, ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 terjadi, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) mempelesetkan genjer-genjer menjadi jenderal-jenderal. Dalam catatan pribadinya Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M Arief menuliskan bahwa lagu “Genjer-genjer” telah dipelesetkan.
Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh Jendral Jendral saiki wes dicekeli Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa Dijejer ditaleni dan dipelosoro Emake Germwani, teko kabeh milu ngersoyo Jendral Jendral maju terus dipateni
Akibat penulisan lagu “Genjer-genjer” menjadi jenderal-jenderal, maka kian kuatlah alasan Orde Baru untuk membumihanguskan lagu ini. Pada perkembangannya, siapa pun yang tetap menyanyikan lagu ini akan ditangkap oleh aparat keamanan, tentu dengan tuduhan komunis.
Karena larangan menyanyikan lagu genjer-genjer, maka beberapa seniman gandrung di Banyuwangi juga dilarang untuk menyanyikan lagu genjer-genjer, dan beberapa lagu dan gendhing yang memompa kesadaran politik massa rakyat. (Dari berbagai Sumber)
Catatan kecil Aini Patria
SEKITAR LAGU GENJER-GENJER
Berita Utama harian SUARA MERDEKA, Semarang, Selasa 4 Juli 2000, menurunkan tulisan tentang Lagu Genjer-genjer. Tulisan itu diawali dengan kata-kata lagu Genjer-genjer yang ditulis pakai bahasa Jawa-Jawa Tengah. Sedang seingat saya sejak pertamakali mendengarkan lagu Genjer-genjer itu, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa-Banyuwangi.
Inti tulisan itu, menyampaikan komentar dan usulan dalang kondang Ki Manteb Sudharsono. Menurut Ki Manteb, Genjer-genjer itu ciptaan Ki Nato Sabdho, maka harus direhabilitasi. Usulan Ki Manteb itu, tentu perlu disambut sebagai usulan yang positif.
Terlepas siapa penciptanya, menyanyikan sebuah lagu adalah merupakan hak asasi setiap manusia; seperti halnya menari, berolahraga, bernapas, menghirup udara, tertawa dsb; selama cara menyenyikanya tidak menggangu pihak lain.
Dengan menyanyi, nembang, ura-ura, klengkengan, hati manusia menjadi gembira, tidak lesu, segar; singkatnya badan bertambah sehat dan otak menjadi ringan. Menyanyi telah menjadi bagian hidup manusia-manusia waras sejak dahulu kala.
Hanya pengausa-penguasa yang kurang waraslah yang mengadakan pelarangan terhadap sebuah lagu.
Namun alangkah baiknya, bila usulan Ki Manteb itu dasarnya bukan hanya karena lagu itu diciptakan oleh Ki Narto Sabdho, andaikata yang menciptakan orang lain, kalau lagu itu indah dan baik isinya apakah tak perlu untuk direhabilitasi.
Ketika rejim militer Orde Baru yang dikepalai Soeharto naik tahta, karena banyak mengadakan larangan-larangan, tak sedikit orang yang tak berani menyanyi, meskipun nyanyian itu secara resmi tidak dilarang. Misalnya lagu 1 Mei secara resmi barangkali tak ada larangan, tapi karena Hari Kemengan Buruh Sedunia tak pernah diperingati, bahkan kata BURUH saja sudah bikin mata merah penguasa, ya tak ada yang menyanyikan.
Ambillah contoh lagi sikap Gesang, pencipta lagu yang namanya akan tercatat dalam sejarah itu. Selain lagu-lagunya sangat terkenal dan konon lagu Pohon Beringin nya menjadi lagu Golkar, sebenarnya Gesang punya lagu simpanan yaitu lagu Tembok Besar. Lagu ini ditulisnya ketika Pak Gesang melawat ke Tiongkok bersama teman-temannya ketika Lekra belum dilarang. Barangkali lagu Tembok Besar itu, sekarang sudah waktunya untuk didengarkan kembali.
Dalam tulisan itu, lagu Genjer-genjer digolongkan Lagu Dolanan. Dalam konteks lama tembang Jawa memang cuma mengenal Tembang Gede, Tembang Tengahan, Macapat dan lagu Dolanan. Sebenarnya sejak pertengahan tahun limapuluhan, telah muncul genre baru. Kalau dalam puisi muncul 'puisi Jawa gagrag anyar' yang disebut juga geguritan (geguritan sebenarnya nama pinjaman dari puisi lama sebangsa singir), di bidang tembang juga telah lahir 'tembang gagrag anyar'.
Diantara pencipta lagu gagrag anyar ini di Jawa Tengah diantaranya Pak Suyud dari Salatiga, di Jawa Timur Pak Arif dari Banyuwangi. Karena bentuk lagu itu sudah nyimpang dari tembang yang sudah dibakukan, mungkin dengan mudah disebut saja Lagu Dolanan.
Menilik isinya lagu "Blanja wurung" ciptaan Pak Suyud sukar digolongkan sebagai lagu dolanan, demikian juga Genjer-genjer. Lagu Blanja wurung yang sering ditembangkan dan ditarikan dalam Bedayan
Ketoprak Kridho Mardi, Kridha Mudha, Manggala dsb pada tahun enampuluhan itu, isinya mengambarkan kesulitan ekonomi pada masa itu. Mau belanja saja sampai wurung (tidak jadi) karena uangnya tak cukup. Bisakah lagu semacam ini digolongkan lagu dolanan anak-anak?
Penutup lagu itu berbunyi: Mbakyu leres niku wau/ Buruh, tani lan bakul kudu bersatu... (Mbakyu betul tadi itu/ Buruh, tani dan pedagang harus bersatu...). Penerapan front persatuan dalam menanggulangi kesulitan ekonomi, tentu tak bisa digolongkan sebagi lagu dolanan anak-anak.
Tentang lagu Genjer-genjer, setahu saya penciptanya adalah Pak Arif, putera kreatif rakyat Banyuwangi. Lagu itu menyebar luas sekitar awal tahun enampuluhan, dinyanyikan di kampung-kampung juga di istana.
Seperti lagunya yang lain Genjer-genjer ditulis dalam bahasa Jawa-Banyuwangi. Saya tahu bahasa Jawa-Jawa Tengah dan Jawa Timur (Surabayan). Tapi mengikuti kata-kata lagu yang diciptakan Pak Arief dalam bahasa Jawa-Banyuwangi, hanya mengerti garis besarnya.
Tentang lagu-lagu ciptaan Pak Arif, lebih dinamis ketimbang lagu-lagu Jawa; barangkali semacam peralihan dari Jawa ke Bali. Pengiring lagunya juga cukup menarik, merupakan kombinasi dari beberapa macam alat musik. Selain mengunakan unsur gamelan: kendang, ricikan, kempul, kenong, gong dsb, juga dipadu dengan angklung dan biola. Pentas musik itu dipandu oleh dirigen seperti musik barat. Saya sempat menyaksikan pentas Arif itu, kalau tak salah pada tahun 1964 di gedung SBKA Jakarta.
Selain mementaskan karya ciptaan sendiri, Pak Arif juga mementaskan lagu rakyat. Tentang lagu Genjer-genjer, menurut Pak Arif sendiri latar belakangnya adalah jaman Jepang, waktu itu banyak orang kelaparan. Kalau di beberapa tempat orang pada makan ares (bonggol) pisang, di Banyuwangi kebanyakan mencari daun genjer.
Untuk dibandingkan, disajikan dua kutipan bait pertama kata-kata lagu itu. Pertama dari Sura Merdeka, kedua dari saya sendiri berdasarkan ingatan yang digali lagi setelah tersimpan lebih tigapuluh lima tahun.
Dari Suara Merdeka, 4 Juli 2000
Jer genjer Ana ledhokan pating kleler Oo, makne thole oleh sak tenong Si thole teka nggawa si genjer...
Dari saya:
Njer genjer ring kedhokan pating keleler emake thole teka-teka mbubuti genjer ole satenong mengko sedhot sing thole-tole genjer-genjer saiki digawa mole...
Untuk meneliti siapa pencipta lagu ini, saya kira tidak terlalu sukar, soalnya cuma waktu. Saya yakin diantara 200 juta rakyat Indonesia ini ada yang masih menyimpan atau menyembunyikan piringan hitam lagu itu.
Hanya karena pertarungan antara elite politik yang pro reformasi-demokrasi dengan golongan status quo yang mempertahankan harta dan tahta masih gencar, yang menyimpan piringan hitam lagu itu, nampaknya masih segan untuk memutar kembali. Lagu Pak Arif yang lain yang saya masih ingat namanya ialah lagu Banteng
Merah atau Semangat Banteng Merah. Bagaimanakah nasib seniman rakyat Banyuwangi Arif itu?
7 Juli 2000 Aini Patria
 | Good articles! Kapan lagu Genjer-Genjer ini bisa diputar diradio station?
|
 | Sebenarnya ya tergantung stasiun radionya . mo gak memutar lagu ini....masak sekarang masih takut juga???? mungkin kalah populer ama Drive dan Letto atau Kangen Band ya. hehehe.. untuk sementara dengerin aja di multiply aku ini hehehehehe |
 | aku pernah nanya sama salah satu anggoto DPR...mendapat jawaban sbb; sebenarnya tidak ada pelarangan terhadap pentayangan lagu Genjer Genjer, masalahnya masyarakat sudah menganggap lagu itu beridentitas dengan PKI, jadi kalo radio mentayangkan lagu tersebut, sudah dengan sendirinya menjadi musuh masyarakat....... masaq masyarakat kita masih kolot begitu mas? |
 | lho dapat datanya dari mana? aku kira masyarakat tidak pernah mencap lagu itu sbg identitas PKI tetapi Orde baru yang memberikan stigma bgt dan akhirnya masyarakat tahu itu lagu dilarang karena dianggap lagunya PKI. masyarakat terutama generasi muda mana tau klu itu lagu masyarakat dan gak ada kaitannya dengan PKI. lha klu lagu Ilir-ilir atau Gundul Patjul yang diplesetkan, apa mesti dilarang itu lagu? terus dicap PKI? semoga bangsa ini tambah dewasa dengan keberagaman dan keterbukaan. |
 | ya jawabannya kayaq begitu.... Jadi sampe sekarang masih belom ada radio station yang mau muter lagu tersebut... ingin nyoba... tapi takut dibakar nanti....kan negara kita ngga ada hukum terhadap aksi ujuk rasa... repot mas.... |
 | hehehehehehe... sayangnya aku gak punya stasiun radio mas... klu ada? ya.. belon tentu juga berani hehehehehhe... ada yang pengen jadi Martir? |
 | Lebih baik jangan mas... susah ngelolahnya... belom lagi dijegal kanan kiri sama radio laen...! |
 | Nah.. ketahuan nich mas profesional di dunia radio. dimana mas? namanya apa? |
 | Ada tuh di MPku....ada linknya.... Tapi aku jarang on air... ya karena ngga ada ditempat seeeh.... |
 | ooohh.. lho koq gak ada di tempat? owner dong? siip. |
 | What?!! owner?!! pengennya seeeh begitu....(<---sorry boss SOKA, bukannya mau membelot lho boss!)... Aku cuman bawain satu acara ngga tetap di SOKA Radio... jadi kalo lagi ke Jember, baru siaran... gitu azja kok, simple banged! |
 | oooooooooooooooooooooooooooooooooooh.. aku udah kasih comment tuh di link-nya. lha netapnya dimana nich? (lha ini koq jd forum chatting? hehehehehe) |
 | Ooopsss...mas liat dong teliti dikit di MP ku...., gara2 mas Adi ngga teliti, comments ini jadi chattingan duooong! |
 | Bos Minta Lagunya dong Gw Download, jangan sairnya doang............THANKS |
 | Silahkan masuk ke kumpulan lagu2 dan pilih versi yang paling disukai... |
 | Oh.. ini lagu daerahku Banyuwangi.... |
| |