Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntrySep 1, '07 3:11 AM
for everyone
Lirik lagu Genjer-genjer yang berkisah tentang tumbuhan genjer, tumbuhan sawah yang memiliki kedekatan dengan kehidupan petani dan masyarakat kecil, menjadikannya mudah diterima oleh masyarakat luas. Boleh jadi mereka menyukai lagu ini karena lariknya mengisyaratkan keberpihakan pada rakyat kecil. Lirik lagu Genjer-genjer ditulis dalam bahasa Jawa, meski beberapa sumber menyebutkan adanya perbedaan lirik di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur akibat digunakannya logat bahasa Jawa yang berbeda.

Mengenai muasal lagu Genjer-genjer, Hersri Setiawan memiliki catatan menarik. Dia mengisahkan bahwa pada bulan Desember 1962, para sastrawan dari beberapa lembaga kebudayaan di Indonesia, mendapat undangan untuk mengikuti sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Komite Eksekutif Biro Pengarang Asia-Afrika di kota Denpasar, Bali. Selain wakil-wakil dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), berangkat juga perwakilan dari Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi). Utusan dari Lekra dipimpin oleh Jubaar Ajoeb dangan peserta antara lain Rivai Apin, Hr. Bandaharo, Pramudya Ananta Toer, Bujung Saleh Puradisastra, Dodong Jiwapraja, Samandjaja, Sobron Aidit dan Nyoto alias Iramani.

Sebelum menyeberang ke pulau Bali, rombongan tersebut menyempatkan diri untuk singgah di kota Banyuwangi, Jawa Timur. Disana mereka memperolah sambutan hangat dari pimpinan Lekra cabang setempat, salah satunya adalah M. Arif, pemimpin Lembaga Musik. Bersamanya hadir pula sekelompok perempuan berkain kebaya, yang kemudian memainkan alat musik angklung dan membawakan beberapa buah komposisi musik sebagai bentuk ucapan selamat datang. Dalam kesempatan itulah lagu Genjer-genjer, yang dibawakan sebagai lagu pembuka dan penutup reportoar, mampu memikat hati para tetamu dari Jakarta. Seusai acara penyambutan, mereka ramai memperbincangkan lagu yang digubah oleh M. Arif dan dinyanyikan dalam logat Banyuwangi itu. Bahkan Njoto sempat melontarkan komentar yang bernada ramalan bahwa lagu Genjer-genjer akan terkenal secara luas dan menjadi lagu nasional.

Belakangan, rerasan Nyoto, yang saat itu menjabat sebagai Ketua III CC-PKI dan sebelumnya juga dikenal sebagai seniman musik yang acap mengisi acara musik di Radio Republik Indonesia (RRI) bersama Bing Slamet, ternyata tidak meleset. Lebih kurang satu tahun setelah diperdengarkan dihadapan perwakilan Lekra di Banyuwangi, lagu Genjer-genjer mulai sering mengalun di ibukota melalui siaran RRI dan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Bahkan lagu tersebut dinyanyikan oleh Bing Slamet, penyanyi tenar saat itu, dan direkam dalam piringan hitam yang dijual bebas dipasaran.

Lagu Genjer-genjer, dan sebuah tarian yang juga dikenal dengan nama yang sama, kemudian sering dipentaskan di Jakarta oleh sebuah kelompok hiburan, Paduan Suara Gembira. Pada acara ulang tahun Konferensi Asia-Afrika pada bulan April 1965, lagu dan tarian tersebut disuguhkan pula oleh Paduan Suara Gembira ke hadapan para tamu terhormat dari negara-negara Asia-Afrika.

Entah apa yang salah dengan genjer-genjer sebagai sebuah produk kebudayaan? Selepas PKI dan orang-orang PKI, berikut anak cucunya dihancurkan oleh Orde Baru, tak terkecuali pula lagu genjer-genjer yang sebenarnya adalah lagu yang menggambarkan potret masyarakat pada zaman pendudukan Jepang. Mungkin steriotype lagu genjer-genjer menjadi lagu komunis dan patut dihancurkan muncul atas beberapa faktor. Pertama, sejak awal lagu ini berkembang dan dikreasi
oleh kalangan komunis dan dikembangkan oleh kalangan komunis pula. Walaupun pada perkembangannya pada era tahun 1960-an lagu ini tidak hanya digemari oleh kalangan komunis, tetapi juga masyarakat secara luas. Namun Orde Baru menerapkan politik bumi hangus, maka seluruh produk apa pun yang dilahirkan oleh orang-orang komunis haram hukumnya dan patut dihabisi. Kedua, ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 terjadi, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) mempelesetkan genjer-genjer menjadi jenderal-jenderal. Dalam catatan pribadinya Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M Arief menuliskan bahwa lagu “Genjer-genjer” telah dipelesetkan.

Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli
Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Germwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni

Akibat penulisan lagu “Genjer-genjer” menjadi jenderal-jenderal, maka kian kuatlah alasan Orde Baru untuk membumihanguskan lagu ini. Pada perkembangannya, siapa pun yang tetap menyanyikan lagu ini akan ditangkap oleh aparat keamanan, tentu dengan tuduhan komunis.

Karena larangan menyanyikan lagu genjer-genjer, maka beberapa seniman gandrung di Banyuwangi juga dilarang untuk menyanyikan lagu genjer-genjer, dan beberapa lagu dan gendhing yang memompa kesadaran politik massa rakyat.
(Dari berbagai Sumber)


Catatan kecil Aini Patria

SEKITAR LAGU GENJER-GENJER

Berita Utama harian SUARA MERDEKA, Semarang, Selasa 4 Juli 2000,
menurunkan tulisan tentang Lagu Genjer-genjer. Tulisan itu diawali dengan
kata-kata lagu Genjer-genjer yang ditulis pakai bahasa Jawa-Jawa Tengah.
Sedang seingat saya sejak pertamakali mendengarkan lagu Genjer-genjer itu,
bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa-Banyuwangi.

Inti tulisan itu, menyampaikan komentar dan usulan dalang kondang Ki
Manteb Sudharsono. Menurut Ki Manteb, Genjer-genjer itu ciptaan Ki Nato
Sabdho, maka harus direhabilitasi. Usulan Ki Manteb itu, tentu perlu
disambut sebagai usulan yang positif.

Terlepas siapa penciptanya, menyanyikan sebuah lagu adalah merupakan hak
asasi setiap manusia; seperti halnya menari, berolahraga, bernapas,
menghirup udara, tertawa dsb; selama cara menyenyikanya tidak menggangu
pihak lain.

Dengan menyanyi, nembang, ura-ura, klengkengan, hati manusia menjadi
gembira, tidak lesu, segar; singkatnya badan bertambah sehat dan otak
menjadi ringan. Menyanyi telah menjadi bagian hidup manusia-manusia waras
sejak dahulu kala.

Hanya pengausa-penguasa yang kurang waraslah yang mengadakan pelarangan
terhadap sebuah lagu.

Namun alangkah baiknya, bila usulan Ki Manteb itu dasarnya bukan hanya
karena lagu itu diciptakan oleh Ki Narto Sabdho, andaikata yang
menciptakan orang lain, kalau lagu itu indah dan baik isinya apakah tak
perlu untuk direhabilitasi.

Ketika rejim militer Orde Baru yang dikepalai Soeharto naik tahta, karena
banyak mengadakan larangan-larangan, tak sedikit orang yang tak berani
menyanyi, meskipun nyanyian itu secara resmi tidak dilarang. Misalnya lagu
1 Mei secara resmi barangkali tak ada larangan, tapi karena Hari Kemengan
Buruh Sedunia tak pernah diperingati, bahkan kata BURUH saja sudah bikin
mata merah penguasa, ya tak ada yang menyanyikan.

Ambillah contoh lagi sikap Gesang, pencipta lagu yang namanya akan
tercatat dalam sejarah itu. Selain lagu-lagunya sangat terkenal dan konon
lagu Pohon Beringin nya menjadi lagu Golkar, sebenarnya Gesang punya lagu
simpanan yaitu lagu Tembok Besar. Lagu ini ditulisnya ketika Pak Gesang
melawat ke Tiongkok bersama teman-temannya ketika Lekra belum dilarang.
Barangkali lagu Tembok Besar itu, sekarang sudah waktunya untuk
didengarkan kembali.

Dalam tulisan itu, lagu Genjer-genjer digolongkan Lagu Dolanan. Dalam
konteks lama tembang Jawa memang cuma mengenal Tembang Gede, Tembang
Tengahan, Macapat dan lagu Dolanan. Sebenarnya sejak pertengahan tahun
limapuluhan, telah muncul genre baru. Kalau dalam puisi muncul 'puisi Jawa
gagrag anyar' yang disebut juga geguritan (geguritan sebenarnya nama
pinjaman dari puisi lama sebangsa singir), di bidang tembang juga telah
lahir 'tembang gagrag anyar'.

Diantara pencipta lagu gagrag anyar ini di Jawa Tengah diantaranya Pak
Suyud dari Salatiga, di Jawa Timur Pak Arif dari Banyuwangi. Karena bentuk
lagu itu sudah nyimpang dari tembang yang sudah dibakukan, mungkin dengan
mudah disebut saja Lagu Dolanan.

Menilik isinya lagu "Blanja wurung" ciptaan Pak Suyud sukar digolongkan
sebagai lagu dolanan, demikian juga Genjer-genjer. Lagu Blanja wurung
yang sering ditembangkan dan ditarikan dalam Bedayan

Ketoprak Kridho Mardi, Kridha Mudha, Manggala dsb pada tahun enampuluhan
itu, isinya mengambarkan kesulitan ekonomi pada masa itu. Mau belanja saja
sampai wurung (tidak jadi) karena uangnya tak cukup. Bisakah lagu semacam
ini digolongkan lagu dolanan anak-anak?

Penutup lagu itu berbunyi: Mbakyu leres niku wau/ Buruh, tani lan bakul
kudu bersatu... (Mbakyu betul tadi itu/ Buruh, tani dan pedagang harus
bersatu...). Penerapan front persatuan dalam menanggulangi kesulitan
ekonomi, tentu tak bisa digolongkan sebagi lagu dolanan anak-anak.

Tentang lagu Genjer-genjer, setahu saya penciptanya adalah Pak Arif,
putera kreatif rakyat Banyuwangi. Lagu itu menyebar luas sekitar awal
tahun enampuluhan, dinyanyikan di kampung-kampung juga di istana.

Seperti lagunya yang lain Genjer-genjer ditulis dalam bahasa
Jawa-Banyuwangi. Saya tahu bahasa Jawa-Jawa Tengah dan Jawa Timur
(Surabayan). Tapi mengikuti kata-kata lagu yang diciptakan Pak Arief dalam
bahasa Jawa-Banyuwangi, hanya mengerti garis besarnya.

Tentang lagu-lagu ciptaan Pak Arif, lebih dinamis ketimbang lagu-lagu
Jawa; barangkali semacam peralihan dari Jawa ke Bali. Pengiring lagunya
juga cukup menarik, merupakan kombinasi dari beberapa macam alat musik.
Selain mengunakan unsur gamelan: kendang, ricikan, kempul, kenong, gong
dsb, juga dipadu dengan angklung dan biola. Pentas musik itu dipandu oleh
dirigen seperti musik barat. Saya sempat menyaksikan pentas Arif itu,
kalau tak salah pada tahun 1964 di gedung SBKA Jakarta.

Selain mementaskan karya ciptaan sendiri, Pak Arif juga mementaskan lagu
rakyat. Tentang lagu Genjer-genjer, menurut Pak Arif sendiri latar
belakangnya adalah jaman Jepang, waktu itu banyak orang kelaparan. Kalau
di beberapa tempat orang pada makan ares (bonggol) pisang, di Banyuwangi
kebanyakan mencari daun genjer.

Untuk dibandingkan, disajikan dua kutipan bait pertama kata-kata lagu itu.
Pertama dari Sura Merdeka, kedua dari saya sendiri berdasarkan ingatan
yang digali lagi setelah tersimpan lebih tigapuluh lima tahun.

Dari Suara Merdeka, 4 Juli 2000

Jer genjer
Ana ledhokan pating kleler
Oo, makne thole
oleh sak tenong
Si thole teka nggawa si genjer...

Dari saya:

Njer genjer
ring kedhokan pating keleler
emake thole teka-teka mbubuti genjer
ole satenong mengko sedhot sing thole-tole
genjer-genjer saiki digawa mole...

Untuk meneliti siapa pencipta lagu ini, saya kira tidak terlalu sukar,
soalnya cuma waktu. Saya yakin diantara 200 juta rakyat Indonesia ini
ada
yang masih menyimpan atau menyembunyikan piringan hitam lagu itu.

Hanya karena pertarungan antara elite politik yang pro
reformasi-demokrasi
dengan golongan status quo yang mempertahankan harta dan tahta masih
gencar, yang menyimpan piringan hitam lagu itu, nampaknya masih segan
untuk
memutar kembali.
Lagu Pak Arif yang lain yang saya masih ingat namanya ialah lagu Banteng

Merah atau Semangat Banteng Merah.
Bagaimanakah nasib seniman rakyat Banyuwangi Arif itu?

7 Juli 2000
Aini Patria





16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
sokaradio1009 wrote on Sep 3, '07
Good articles! Kapan lagu Genjer-Genjer ini bisa diputar diradio station?
adimarhaen wrote on Sep 3, '07
Sebenarnya ya tergantung stasiun radionya . mo gak memutar lagu ini....masak sekarang masih takut juga???? mungkin kalah populer ama Drive dan Letto atau Kangen Band ya. hehehe.. untuk sementara dengerin aja di multiply aku ini hehehehehe
sokaradio1009 wrote on Sep 3, '07
aku pernah nanya sama salah satu anggoto DPR...mendapat jawaban sbb; sebenarnya tidak ada pelarangan terhadap pentayangan lagu Genjer Genjer, masalahnya masyarakat sudah menganggap lagu itu beridentitas dengan PKI, jadi kalo radio mentayangkan lagu tersebut, sudah dengan sendirinya menjadi musuh masyarakat....... masaq masyarakat kita masih kolot begitu mas?
adimarhaen wrote on Sep 3, '07
lho dapat datanya dari mana? aku kira masyarakat tidak pernah mencap lagu itu sbg identitas PKI tetapi Orde baru yang memberikan stigma bgt dan akhirnya masyarakat tahu itu lagu dilarang karena dianggap lagunya PKI. masyarakat terutama generasi muda mana tau klu itu lagu masyarakat dan gak ada kaitannya dengan PKI. lha klu lagu Ilir-ilir atau Gundul Patjul yang diplesetkan, apa mesti dilarang itu lagu? terus dicap PKI? semoga bangsa ini tambah dewasa dengan keberagaman dan keterbukaan.
sokaradio1009 wrote on Sep 3, '07, edited on Sep 3, '07
ya jawabannya kayaq begitu.... Jadi sampe sekarang masih belom ada radio station yang mau muter lagu tersebut... ingin nyoba... tapi takut dibakar nanti....kan negara kita ngga ada hukum terhadap aksi ujuk rasa... repot mas....
adimarhaen wrote on Sep 3, '07
hehehehehehe... sayangnya aku gak punya stasiun radio mas... klu ada? ya.. belon tentu juga berani hehehehehhe... ada yang pengen jadi Martir?
sokaradio1009 wrote on Sep 3, '07
Lebih baik jangan mas... susah ngelolahnya... belom lagi dijegal kanan kiri sama radio laen...!
adimarhaen wrote on Sep 3, '07
Nah.. ketahuan nich mas profesional di dunia radio. dimana mas? namanya apa?
sokaradio1009 wrote on Sep 3, '07
Ada tuh di MPku....ada linknya.... Tapi aku jarang on air... ya karena ngga ada ditempat seeeh....
adimarhaen wrote on Sep 3, '07
ooohh.. lho koq gak ada di tempat? owner dong? siip.
sokaradio1009 wrote on Sep 3, '07
What?!! owner?!! pengennya seeeh begitu....(<---sorry boss SOKA, bukannya mau membelot lho boss!)... Aku cuman bawain satu acara ngga tetap di SOKA Radio... jadi kalo lagi ke Jember, baru siaran... gitu azja kok, simple banged!
adimarhaen wrote on Sep 3, '07
oooooooooooooooooooooooooooooooooooh.. aku udah kasih comment tuh di link-nya. lha netapnya dimana nich? (lha ini koq jd forum chatting? hehehehehe)
sokaradio1009 wrote on Sep 3, '07
Ooopsss...mas liat dong teliti dikit di MP ku...., gara2 mas Adi ngga teliti, comments ini jadi chattingan duooong!
purnomomomo wrote on Mar 24, '09
Bos Minta Lagunya dong Gw Download, jangan sairnya doang............THANKS
adimarhaen wrote on Mar 25, '09
Silahkan masuk ke kumpulan lagu2 dan pilih versi yang paling disukai...
nankscellular wrote on Apr 10, '09
Oh.. ini lagu daerahku Banyuwangi....
Add a Comment